Sabtu, 07 Januari 2012

Tips Menghindari Bahaya Radiasi Handphone Bagi kesehatan

1.Pertama, Gunakan selalu handsfree, headset, earphone atau
speakerphone saat bicara dengan handphone

langkah ini bertujuan untuk Menghindari atau
menjauhkan radiasi Handphone dari otak
yang berdekatan dengan
telinga kita..

2. Batasi waktu penggunaan
handphone.
Handphone memang penting, tapi alangkah baiknya kita jangan secara terus-
menerus berada dekat
dengan kita, jika kita tidur
matikan handphone dan
nyalakan telepon rumah kabel
biasa..

3. Jangan menelepon terlalu
lama dengan handphone

karena lebih baik memakai
telepon rumah biasa (jika ada)
yang memakai kabel yang
bebas radiasi gelombang
elektromagnetik.

4. Jauhkan handphone yang
aktif dari tempat tidur kita

Saat kita tidur jangan sampai handphone diletakan terlalu dekat dengan Tempat tidur kita, itu untuk
menghindari paparan radiasi
terus-menerus di tempat yang
sama..

5. Pilihlah handphone yang
memiliki RF Specific
Absorption Rate atau SAR
rendah dibawah 1,6 watt/kg
agar radiasi yang dihasilkan
tidak terlalu besar yang dapat
mengganggu organ tubuh
kita.

6. Hindari menaruh
handphone di tempat yang
tetap di dekat tubuh kita
dalam jangka waktu yang
lama.
Jika sering dikantong
celana maka sering-sering
dipindahkan ke saku atau
media penyimpanan yang lain.

7. Pelajari produk ponsel yang
akan kita beli
dan belilah yang
mencamtumkan info
keterangan label emisi radiasi
lalu pilihlah yang aman bagi
tubuh kita dan orang di
sekitar kita.

8. Jauhi teman atau orang
yang berada di sekitar kita
yang sedang bertelepon ria
dalam jangka waktu lama

Bahaya Radiasi Handphone

Dewasa ini perkembangan dan kemajuan teknologi sungguh terlihat sangat mengakar dalam menunjang aktivitas kita sehari-harinya. Salah satunya adalah kemajuan teknologi komunikasi dalam mengirim dan menerima informasi. Kebutuhan untuk menggunakan kemajuan teknologi komunikasi mungkin sudah menjadi suatu kebutuhan pokok bagi kita yang hidup di style-era modern seperti sekarang ini.
Namun apakah kita mengetahui jika kita tidak menggunakan fasilitas teknologi komunikasi dengan benar, maka dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan dan membahayakan, terutama dari segi kesehatan. Seperti contoh dengan adanya fasilitas informasi dengan menggunakan media internet, maka jika disalahgunakan dapat menyebabkan effek negatif atau hal buruk baik secara individual maupun sosial.
Salah satu teknologi yang patut kita cermati adalah dalam menggunakan manfaat handphone atau ponsel sebagai salah satu saranan telekomunikasi yang paling ng-trend saat ini. Sebuah kenyataan jika kita mendapatkan informasi bahwa penggunakan handphone sebagai alat komunikasi telah berkembang sangat pesat di Indonesia. Salah satu hal yang mendukung adalah dengan adanya tarif harga pulsa yang kian murah dari periode sebelumnya. Sebagai informasi tambahan nih selain kebijakan pemerintah, salah satu faktor yang menyebabkan harga pulsa turun derastis terutama jika dibandingkan era -90 an adalah adanya perang tarif atau persaingan harga antar operator itu sendiri.
Harga tarif pulsa yang murah memang pada dasarnya sangat menguntungkan bagi konsumen seperti kita ini, namun ada juga dampak jeleknya loeh! Tahu tidak kalau kita menggunkan handphone untuk telepon terlalu lama maka bahaya radiasi yang ditimbulkan dapat membahayakan kesehatan kita loeh! Walaupun belum ada penelitian yang final tentang bahaya radiasi handphone jika digunakan berlebihan akan berdampak buruk bagi kesehatan (selain dampak kantong kering he4!), tapi setidaknya lebih baik kita menggunakan handphone sebagai salah satu alat komunikasi, dengan benar agar terhindar dari bahaya radiasi handphone yang kita gunakan. Berikut ini beberapa tips sederhana yang sangat membantu agar kita dapat mengurangi dampak bahaya radiasi hanphone bagi tubuh kita:
  1. Jika memungkinkan sebaiknya menggunakan peralatan tambahan seperti misalnya headset ketika berbicara di telepon. Karena walaupun dengan menggunakan headset tidak 100 persen menghilangkan radiasi, tapi setidaknya mengurangi radiasi itu sendiri! Atau jika memungkinkan sebaiknya menggunakan fasilitas loudspeaker. Kemudian jika kita memilih untuk menggunakan headset maka usahkan agar device (ponsel) jauh dari tubuh kita.
  2. Jika tidak memungkinkan menggunakan fasilitas loudspeaker atau tool bantuan seperti headset, maka sebaiknya mengurangi bicara di telepon dan sebaliknya lebih banyak mendengar. Sebagai informasi tambahan nih, handphone yang kita gunakan tersebut umumnya akan memancarkan radiasi ketika kita menggunakan untuk SMS atau ketika kita bicara, tapi tidak akan memancarkan radiasi jika kita cukup mendengarkan lawan kita bicara saja sewaktu digunakan untuk telepon!
  3. Sebisa mungkin jika masih bisa SMS, sebaiknya jangan ttelpon. Karena selain untuk ngirit pulsa, energi yang dibutuhkan untuk SMS lebih kecil jika kita gunakan untuk telepon. Hmm… semakin besar energi yang digunakan maka semakin besar pula radiasi yang akan terpancar begitu juga sebaliknya! Jadi ngerti kan maksudnya?
  4. Terkadang kita pergi ke daerah yang miskin sinyal, dan biasanya jika hp kita  gunakan untuk menelpon maka sinyalnya akan lemah (putus-nyambung). Logikanya begini, jika sinyal lemah maka handphone akan semakin kuat memancarkan radiasi untuk mencari sinyal lemah tersebut, selain itu keadaan seperti ini juga akan menyebabkan baterai cepat kosong. Nah, oleh karena itu sebaiknya hindari penggunaan handphone jika sinyalnya lemah.
  5. Terkadang karena alasan sayang dan ingin ponsel yang kita miliki tetep awet, maka kita sering menggunakan cashing tambahan atau pelindung tambahan. Jika kita menggunakan pelindung tambahan dan kita gunakan untuk telepon maka sinyal akan terperangkap dan handphine akan memancarkan radiasi yang lebih kuat untuk menemukan sinyal yang stabil. Nah oleh karena itu sebaiknya tidak usah memakaikan pelindung tambahan untuk Handphone kita dech (kecuali jika handphone-nya bener2 mahal gila… he4x).
  6. Hindari penggunaan handphone dari anak-anak, karena otak anak-anak dapat menyerap bahaya radiasi hanphone lebih cepat dan lebih banyak dari pada orang dewasa (dapat mencapai 2 x lipat).
Ok, segitu aja tips ringan ini semoga membantu-ya. Informasi diatas di kutip dari Kompas.

Rotifera (Brachionus plicatilis) dan peranannya dalam dunia peikanan


1.1            Biologi rotifera (Brachionus plicatilis
                     Taksonomi dan Morfologi Rotifera
Menurut  Mujiman (1978) dalam Julianty (1999), ciri-ciri rotifera mempunyai kisaran ukuran tubuh antara 50-250 mikron, dengan struktur yang sangat sederhana, ciri khas yang merupakan dasar pemberian nama rotifera adalah terdapatnya suatu bangunan yang disebut korona. Korona ini berbentuk bulat dan berbulu getar, yang memberikan gambaran seperti roda, sehingga dinamakan rotifera. 
Menurut  Hyman (1951) dan  Suzuki (1983) dalam Julianty (1999), Brachionus plicatilis memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Phylum        : Avertebrata
Klas             : Aschelmintes
Sub klas       : Rotaria
Ordo             : Eurotaria
Family          : Brachionidae
Sub family    : Brachioninae
Genus           : Brachionus
Species         Brachionus plicatilis
Brachionus termasuk salah satu genus yang sangat populer diantara sekian banyak jenis Rotifera. Genus ini terdiri dari 34 spesies Dahril, (1996) dalam Wahyuni (2009). Menurut Mudjiman (2002) bahwa selain Brachionus plicatilis dikenal juga beberapa spesies dari genus Brachionus, antara lain: Brachionus pala, Brachionus punctatus, Brachionus abgularis, dan Brachionus moliis.
w3732e0m.gif
Gambar 2.1. Brachionus plicatilis (Sumber; Mokoginta 2003)
Tubuh  Brachionus plicatilis terbagi atas tiga bagian yaitu kepala, badan dan kaki atau ekor. Batas bagian kepala dengan badan tidak jelas, bagian kaki dan ekor berakhir dengan belahan yang disebut jari. Badannya dilapisi oleh kutikula yang tebal dan disebut lorika. Ujung depan tubuh dilengkapi dengan gelang-gelang silika  yang kelihatan melingkar seperti spiral disebut korona dan berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam mulut (Anonim, 1992). 
Sel tubuh rotifera Brachionus picatilis tersusun sebagai jaringan tubuh yang membentuk sistem organ yang umumnya masih sangat sederhana. Sistem pencernaan dimulai dari mulut yang dekat dengan korona. Di bagian mulut terdapat faring yang disebut mastax. Kerongkongannya pendek, yaitu yang menghubungkan antara mastax dengan lambung. Makanan yang tidak dicerna dibuang keluar melalui anus (Djuhanda, 1980 dalam Wahyuni, 2009). Makanan diambil terus menerus sambil berenang  (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). Secara alami Barchionus suka makan jasad–jasad renik yang lebih kecil dari dirinya, antara lain ganggang renik, ragi, bakteri dan protozoa.
Dari hasil penelitian Snell & Garman (1996) dalam Wahyuni (2009), menyimpulkan bahwa perkembangan rotifera secara kawin atau tidak kawin sebenarnya terjadi pada waktu yang hampir bersamaan perkawinan. Peristiwa perkawinan Brachionus plicatilis akan sangat bergantung pada peluang terjadinya kontak antara Brachionus plicatilis jantan dengan Brachionus plicatlis betina. Pada saat populasi meningkat, jumlah jantan semakin banyak maka peluang untuk tejadinya perkawinan akan semakin besar. 
Lama hidup Brachionus plicatilis betina berkisar antara 12-19 hari dan umur Brachionus plicatilis jantan berkisar antara 3-6 hari. Antara bentuk jantan dan betina terdapat perbedaan bentuk yang mencolok yaitu, Brachionus jantan memiliki bentuk tubuh yang jauh lebih kecil daripada yang betina dan juga mengalami degenerasi dan yang jantan biasanya muncul pada musim-musim tertentu saja baik secara partenogenesis. (Anonim, 1990)

1.1.2        Perkembangbiakan Rotifera
Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (1995) dalam Wahyuni (2009) menjelaskan bahwa Rotifera jenis Brachionus plicatilis mempunyai daur hidup yang unik  dalam keadaan normal rotifera berkembang secara parthenogenesis (bertelur tanpa kawin). Brachionus plicatilis betina yang amiktik akan menghasilkan telur yang berkembang menjadi betina amiktik pula. Namun dalam keadaan yang tidak normal, misalnya terjadi perubahan salinitas, suhu air dan kualitas pakan, maka rotifera betina yang amiktik tadi, telurnya dapat menetas menjadi betina miktik. Betina miktik akan menghasilkan telur yang akan berkembang menjadi Brachionus plicatilis jantan. Selanjutnya bila Brachionus plicatilis jantan dan Brachionus plicatilis betina miktik tersebut kawin maka betina miktik akan menghasilkan telur kista yang akan tahan terhadap kondisi perairan yang sangat jelek dan tahan terhadap kekeringan. Telur kista ini akan dapat menetas lagi apabila keadaan perairan telah menjadi normal kembali.
Menurut Isnansetyo & Kurniastuti (1995) dalam Wahyuni (2009), Pada mulanya betina miktik menghasilkan 1- 6 telur kecil. Betina miktik adalah betina yang dapat dibuahi. Telur yang dihasilkan oleh betina miktik akan menetas menjadi jantan. Jantan ini akan membuahi betina miktik dan menghasilkan 1-2 telur istirahat. Telur ini mengalami masa istirahat sebelum menetas menjadi betina amiktk. Betina amiktik adalah betina yang tidak dapat dibuahi. Dari betina amiktik yang terjadi ini maka reproduksi secara aseksual akan terjadi lagi. Betina miktik hanya akan menghasilkan telur miktik demikian pula sebaliknya.
Walaupun telah banyak literatur yang menerangkan adanya perubahan antara betina amiktik menjadi betina miktik ini, namun pembiakan secara bisexual ini belum banyak diketahui secara jelas. Untuk beberapa genera  dari famili Brachionidae diketahui bahwa kondisi yang menentukan seekor betina menjadi amiktik atau miktik terjadi beberapa saat sebelum telur mulai membelah. Hal ini juga menunjukkan banwa yang mngontrol produksi betina miktik ini pada umumnya adalah kondisi lingkungan (faktor luar) dan bukan merupakan faktor dalam semata (Dahril, 1996) dalam (Wahyuni,2009).

1.1.3        Kandungan Gizi Rotifera
Makanan merupakan salah satu faktor penunjang dalam perkembangan larva ikan, karena ikan membutuhkan energi untuk pertumbuhan, aktifitas dan reproduksi. Sebagian dari energi berasal dari makanan, demikian juga pertambahan biomass ikan sangat tergantung dari energi yang tersedia pada ikan tersebut. Oleh karenanya untuk memenuhi kebutuhan energi perlu diberikan makanan yang berkualitas tinggi sehingga memenuhi kebutuhan nutrisi ikan. Nilai nutrisi makanan, pada umumnya dilihat dari komposisi gizinya seperti kandungan protein, lemak, kadar air, serat kasar dan abu (Hariati, 1989). Menurut Anonimus (1990) Adapun kandungan gizi dari rotifera (Brachionus plicatilis) adalah: kadar air 85,70, protein: 8,60, lemak: 4,50, abu: 0,70

1.1.4        Makanan Rotifera
Brachionus sp. Umumnya bersifat omnivora dan suka memakan jasad-jasad renik yang mempunyai ukuran tubuh kecil dari dirinya, seperti : alga, ragi, bakteri dan protozoa. Brachionus plicatilis bersifat penyaring tidak selektif (non selective filter-feeder). Pakan diambil secara terus menerus sambil berenang (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995). Makanan utama dari rotifera adalah phytoplankton dan plankton lainnya, detritus dan bahan-bahan organik terutama yang mengendap di dasar perairan. Brachionus plicatilis juga pemakan segala dan partikel-partikel yang berukuran sesuai dengan besar alat penghisapnya.

1.2              Prinsip Kultur Rotifera
Pada suatu unit pembenihan, penyediaan pakan alami untuk larva ikan dibedakan menjadi dua kegiatan, yaitu kultur murni atau skala laboratorium dan kultur massal atau dalam bak bervolume besar, Brachionus sp. dapat berkembang dengan baik jika dipelihara di tempat yang mendapat sinar matahari (Mujiman, 1998). Brachionus plicatilis bersifat euthermal.
Brachionus ditemukan di perairan tawar, payau, atau laut, tergantung jenisnya (Mudjiman, 1984). Pertumbuhan populasi Brachionus sp. Dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti suhu, pH, salinitas, konsentrasi oksigen terlarut.
Pada umumnya berbagai faktor lingkungan mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan populasi Brachionus plicatilis, faktor lingkungan yang dimaksud antara lain: suhu, derajat keasaman dan salinitas (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995).
a.       Suhu
Pada suhu 15°C Brachionus plicatilis masih dapat tumbuh, tetapi tidak dapat bereproduksi, sedangkan pada suhu di bawah 10°C akan terbentuk telur istirahat. Kenaikan suhu antara 15-35°C akan menaikkan laju reproduksinya. Kisaran suhu antara 22-30°C merupakan kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan dan reproduksi.
b.      Salinitas
Isnansetyo & Kurniastuty,(1995) menyatakan bahwa  Brachionus plicatilis betina dengan telurnya dapat bertahan hidup pada salinitas 98 ppt, sedangkan salinitas optimalnya adalah 10-35 ppt, disamping itu Brachionus plicatilis juga bersifat euryhalin.
c.       Derajat keasaman
Keasaman air turut mempengaruhi kehidupan rotifera. Rotifera Brachionus plicatilis ini masih dapat bertahan hidup pada pH 5 dan pH 10, sedangkan pH optimum untuk pertumbuhan dan reproduksi berkisar antara 7,5-8,0 (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995).
d.      Oksigen terlarut (DO)
Menurut Anonimus (1990) kualitas air media dengan kandungan oksigen terlarut tidak kurang dari 4,15 ppm layak bagi rotifera.

1.3              Teknik Kultur Rotifera
Menurut Juliaty (1999), teknik kultur rotifera secara massal dilakukan dalam bak beton berukuran 100 ton. Dalam kegiatan ini hal yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan bibit rotifera murni, ketersediaan phytoplankton sebagai pakan rotifera, juga ketersediaan pakan rotifera lainnya (ragi). Lebih lanjut dikatakan bahwa teknik kultur rotifera dilakukan dengan dua metode yaitu metode panen harian dan metode panen transfer.
Metode panen harian, rotifera dikultur dengan kepadatan 20 individu/mL kemudian dipanen pada hari ke-5 setelah mencapai kepadatan 100-150 individu sebanyak 30% dari total kultur. Selanjutnya bak kultur rotifera diisi kembali dengan phytoplankton (kepadatan 3-4 juta sel/mL) pemanean dilakukn dengan menggunakan plankton net 40 mikron dan disaring kembali dengan plankton net 250 mikron untuk memisahkan kotoran.
Metode kultur rotifera lainnya adalah metode panen transfer dalam metode ini diperlukan beberapa bak kultur alga hijau. Pada bak pertama ditebar rotifera dengan kepadatan awal 20 individu/mL setelah kepadatnnya mencapai 100 sampai 150 individu/mL rotifera dipanen dan hasil panen tersebut digunakan sebagai bibit pada bak kultur ke-2 dan seterusnya. Pemanenan dapat dilakukan setiap hari pada bak kultur rotifera yang berbeda.
Teknik kultur Rotifera pada umumnya terdiri dari pembibitan, pemeliharaan, dan pemanenan.
a.             Pembibitan
Rotifera merupakan pakan alami yang membutuhkan teknik yang matang dalam melakukan pembibitan untuk mendapatkan kultur Rotifera yang bagus. Langkah pertama yaitu menyiapkan wadah berupa bak tembok atau bak fiberglass dengan ukuran 25 liter atau wadah lain tersedia. Wadah dibersihkan dengan cara mencuci kemudian mengeringkannya di bawah sinar matahari.
Media pemeliharaan yang dipakai adalah ekstrak pupuk kandang seperti kotoran ayam atau kotoran kuda. Media pemeliharaan dibuat dengan cara merebus kotoran ayam atau kuda dalam panci sebanyak 500 g/liter air. Setelah dimasak, kotoran disaring dengan menggunakan kain trilin.
Cairan hasil penyaringan ditampung dalam bak fiberglass ukuran 25 liter dan diencerkan dengan menambahkan air kolam 5-10 liter. Penambahan air kolam bertujuan agar bakteri dan jasad renik sebagai pakan rotifera dapat tumbuh.
Pada hari ketujuh, bibit rotifera yang diperoleh dari perairan umum dimasukkan ke dalam media pembibitan. Untuk memastikan ada tidaknya Rotifera dalam air harus dilakukan pengamatan di bawah mikroskop. Dalam waktu 1-2 minggu rotifera sudah berkembang dengan baik, dan dapat diinokulasikan untuk dipelihara. (Mujib, 2008)

b.            Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan setelah pembibitan. Inokulum yang sudah siap digunakan akan dikultur melalui 2 metode, yaitu:
1). Dalam akuarium (terbatas)
Ukuran akuarium yang dapat digunakan sebagai wadah pemeliharaan adalah 60 x 40 x 50 cm, sedangkan fiberglass yang biasa dipakai adalah yang berukuran hingga 1 ton. Wadah dicuci bersih dan dikeringkan di bawah terik matahari.
Akuarium diisi dengan air kolam dan volume air yang dimasukkan dihitung. Hal ini diperlukan untuk memperkirakan jumlah pupuk yang akan digunakan. Pupuk yang digunakan adalah kotoran ayam atau kotoran kuda dengan dosis 300-400 g/liter air. Pemberian pupuk dilakukan dengan jalan membungkus pupuk tersebut dalam kain, kemudian digantung hingga seluruh pupuk terendam air.
Setelah tujuh hari, kondisi air media sudah siap ditebari bibit Rotifera. Panen dapat dilakukan pada minggu berikutnya ketika populasi Rotifera mencapai puncak. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan plankton net. Kepadatan populasi akan bisa dipertahankan tetap tinggi selama satu bulan apabila setiap 5-6 hari dilakukan pemupukan ulang sebanyak separuh dosis pupuk awal.
2). Dalam kolam (massal)
Kolam yang digunakan bisa kolam tembok atau kolam tanah yang berukuran antara 100-00 m2. Kolam dikeringkan slama 2-4 hari hingga dasarnya menjadi pecah-pecah. Pencangkulan dan pembajakan dilakukan untuk membalik tanah dasar kolam sehingga udara dapat masuk ke dasar kolam. Perbaikan-perbaikan dilakukan pada saluran pemasukan serta kebocoran-kebocoran yang ada pada tanggul ditutup.
Perbaikan pH tanah air dan membunuh bibit-bibit penyakit dilakukan pengapuran dengan memakai kapur pertanian atau Kapur Tohor 200-300 g/m2. Pemupukan dilakukan dengan cara menebar irisan jerami atau daun kol secara merata dengan dosis 500 g/m2 air. Kolam diisi air hingga menggenang.
Penyemprotan insektisida dilakukan pada hari keempat setelah penggenangan. Insektisida yang dipakai adalah Sumithion 50 EC dengan dosis 4 ppm untuk membunuh organisme lain seperti Cladocera yang menjadi pemangsa Rotifera.
c.             Pemanenan
Pemanenan Rotifera dapat dilakukan seminggu setelah pemeliharaan. Rotifera sudah mencapai populasi puncak. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan plankton net. Cara pemanenannya yaitu dengan mengambil air kolam kemudian air yang terkonsentrasi pada tabung plankton net ditampung dalam ember. Cara lain panen Rotifera adalah dengan menggunakan pompa air yang dialirkan pada wadah tertentu.
Pemupukan ulang perlu dilakukan untuk mempertahankan populasi Rotifera dengan dosis sebanyak setengah dosis pemupukan awal. Sebaiknya pemupukan dilakukan setiap 5-6 hari sekali. Rotifera hidup pada perairan yang banyak tersuspensi bahan organik. Kesukaannya memakan organisme lain yang mempunyai ukuran lebih kecil, seperti ganggang renik, ragi, bakteri, dan protozoa. Pada tubuhnya terdapat organ khusus yang disebut korona. Organ ini bentuknya bulat dan dilengkapi bulu getar sehingga tampak seperti roda (Mujib, 2008).
1.4              Peranan Rotifera Dalam Budidaya Perikanan
      Brachionus plicatilis  merupakan jenis plankton hewani yanng hidup di perairan litoral dan termasuk pakan larva ikan laut yang penting. Dalam percobaan pembenihan ikan laut, rotifera diberikan sebagai pakan larva selama kurang lebih satu bulan.
            Kegunaan Brachionus plicatilis secara tidak langsung mulai berkembang. Brachionus plicatilis merupakan pakan hidup bagi jenis-jenis tertentu golongan ikan sehingga seringkali sangat diperlukan dalam budidaya. Penyediaan pakan alami berupa plankton nabati dan plankton hewani yang tidak cukup tersedia, seringkali menyebabkan kegagalan dalam mempertahankan kelangsungan hidup larva ikan. Brachionus plicatilis sangat penting dalam menunjang budidaya perikanan, terutama sebagai pakan yang baik pada larva ikan maupun udang.
Budidaya ikan secara komersial dari berbagai jenis species-species diantaranya bivalve, crustaceae, dan ikan bertulang belakang akan mengalami permasalahan yang serius apabila didalam proses produksinya tidak tersedia pakan alami yang kontinyu baik kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini dikarenakan masih banyak jenis kultivan budidaya yang masih tergantung input pakan dari pakan organisme hidup, terutama untuk pemeliharaan kultivan dalam bentuk larva. Dilain pihak, budidaya pakan alami harus menyesuaikan dengan kebutuhan kultivan ikan yang dipelihara. Untuk memenuhi kebutuhan kultivan tersebut disyaratkan sifat fisiologi jenis/species pakan hidup yang dikultur, ukuran, kecepatan reproduksi, kemampuan tumbuh, dan nilai nutrisi dari setiap jenis pakan alami.  Dengan perkembangan kebutuhan pangan penduduk dunia saat ini, maka peningkatan budidaya perikanan sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gizi. Pengembangan budidaya perikanan baik di perairan tawar, payau maupun laut diberbagai negara merupakan suatu bentuk revolusi pertumbuhan industri baru. Kenyataan ini selaras dengan bertambahnya populasi penduduk dunia dari tahun ketahun, permintaan akan pangan dunia, potensi produksi perikanan yang sudah mencapai maximum sustainable yield, produksi pertanian yang semakin menurun akibat pergeseran tata guna lahan untuk keperluan lain dan permintaan kualitas hidup perkapita meningkat. Dengan demikian permintaan akan pangan dari sumber hewani juga akan meningkat, lebih-lebih dilihat dari kandungan protein ikan yang mempuyai kandungan asam amino yang lebih lengkap dari pada sumber protein hewani lainnya.  Untuk memenuhi kebutuhan gizi dari sumber protein hewani ikan diperlukan pengembangan budidaya perikanan dan untuk mendukung produksi sesuai dengan kuantitas maupun kualitas produk ikan, maka diperlukan ketersediaan pakan alami. Penyediaan pakan alami baik kuantitas, kualitas dan kontinuitas diperlukan pengetahuan tentang teknik dasar budidaya pakan alami yang baik agar kontinyuitas produksi ikan hasil budidaya dapat terpenuhi sesuai dengan yang diharapkan.
Sebagaian besar larva ikan umumnya memakan tumbuhan dan atau hewan yang berukuran 4-200 mikron. Jenis tumbuhan dan hewan tersebut termasuk didalamnya adalah plankton, yakni organisme yang hidup melayang  dalam air gerakannya selalu mengikuti arus. Namun demikian dari sejumlah spesies yang diketahui tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami bagi pemeliharaan larva, organisme yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan alami dalam pemliharaan larva harua memenuhi kriteria tertentu yaitu: ukuran sel sesuai dengan bukaan mulut larva, kandungan nutrisi cukup tinggi, mudah dicerna dan dapat diserap dalam tubuh larva, gerakannya lambat sehingga larva ikan mudah menangkapnya, mudah dikultur dan mampu bertahan hidup terhadap lingkungan yang fluktuatif salinitas, suhu, dan intensitas cahaya, pertumbuhan populasi membutuhkan waktu yang relatif cepat sehingga dengan segera dapat digunakan dalam keadaan segar dan hidup, usaha pembudidayaannya memerlukan biaya yang relatif sedikit, selama daur hidupnya tidak menghasilkan bahan beracun yang dapat membahayakan kehidupan larva.
 Dari kriteria tersebut Brachionus plicatilis telah memenuhi syarat untuk dapat digunakan sebagai pakan alami larva ikan karena memiliki ukuran yang relatif kecil, lambat dalam berenang, mudah dibudidayakan, mudah dicerna dan mempunyai nilai gizi yang tinggi serta diperkaya dengan asam lemak dan antibiotik (Murtiningsih, 1985).

Taksonomi dan Perkembangbiakan Rotifer


Taksonomi Branchionus rotundiformis adalah sebagai berikut :
Filum               : Avertebrata
Kelas               : Aschelminthes
Sub-kelas         : Rotaria
Sub-ordo         : Eurotaria
Famili              : Monogonanta
Sub-famili       : Branchionidae
Genus              : Branchionae
Spesies            : Branchionus rotundiformis (Mujib, 2008)
Tubuh rotifer terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, badan, dan kaki. Pergerakannya dilakukan oleh sekumpulan silia yang membudar di sekitar bagian kepala yang disebut corona. Kulit luar yang keras menutupi tubuhnya disebut lorica memberikan Rotifer bentuk tubuh yang jelas. Kadang-kadang lorica memiliki duri anterior dan posterior yang berfungsi sebagai pertahanan diri dari predator atau sebgai alat pengapung. Rotifer tersusun atas kurang lebih 950 sel, memiliki system saraf, pencernaan, ekskresi dan reproduksi yang sangat khusus. Kaki yang memanjang pada bagian posterior digunakan untuk melekat (Mujib, 2008).

 





Gambar 1: Branchionus sp.
Rotifer memiliki masa hidup yang tidak terlalu lama. Usia betina pada suhu 25◦C adalah antara 6-8 hari sedangkan yang jantan hanya 2 hari. Rotifer memiliki toleransi salinitas mulai dari 1-60 ppt, Perubahan salinitas yang tiba-tiba dapat mengakibatkan kematian. Salinitas diatas 35 ppt akan mencegah terjadinya reproduksi seksual. Pencegahan ini merupakan hal yang diinginkan dalam kultur missal disebabkan karena keberadaan individu jantan dan kista akan mengurangi tingkat pertumbuhan populasi Rotifer. Intensitas cahaya yang baik untuk kehidupan rotifer yaitu 2000-5000 lux, pH berkisar 7,5 sampai 8,5, kosentrasi amoniak bebas tidak boleh lebih dari 1 ppm (Mujib, 2008)
Rotifer bereproduksi setiap 18 jam sekali. Fekunditas total untuk seekor betina secara aseksual dan dalam kondisi yang baik maka 20-25 individu baru. Kuntitas dan kualitas makanan memberikan peranan penting dalam pertubuhan rotifer. Rotifer memakan beraneka ragam mikroalga (Mujib. 2008)
Kista Rotifer dihasilkan selama fase aseksual dalam siklus hidupnya. Kista rotifer melindungi embrio dengan menekan proses metabolisme sehingga mampu bertahan selam beberapa tahun. Kista yang dihasilkan hampir sama dengan besar telur yang dihasilkan melalui fase seksual. Namun bedanya mereka ditutupi oleh cangkang yang keras serta mereka dapat bertahan dalam lingkungan yang ekstrim. Ketika berada dalam lingkungan yang sesuai kista tersebut dapat menetas pada usia 24 atau 48 jam pada suhu 25◦C dengan pencahayaan yang cukup. Rotifer-rotifer yang menetas tidak digunakan langsung untuk pakan tetapi untuk inokulan untuk kultur massal. Setelah dikultur massa baru Rotifer-rotifer ini digunakan sebagai pakan alami untuk ikan. Rotifer digolongkan menjadi dua kelompok utama yaitu strain S dan L yang memiliki perbedaan ukuran, bentuk, duri anterior, dan suhu optimum. Strain S bentuknya cendrung bulat dengan panjang antara 150-220 µm, sedangakan strain L memiliki panjang 200-360 µm. Adanya perbedaan-perbedaan ukuran rotifer sebagai pakan alami menyesuaikan dengan ukuran mulut larva ikan (Mujib. 2008).
Adapun data kandungan nutrisi rotifer (Branchionus rotundiformis) disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Kandungan Nutrisi Branchionus rotundiformis
Kandungan Nutrisi
Branchionus rotundiformis
Protein (%)
58,9
Lemak (%)
12,8
Ca (mg/L)
0,23
Kadar abu (%)
13,6
P (mg/L)
1,42
(Sudjiharno, 1999)

D. Teknik Kultur Rotifer ( Branchionus sp )
1)   Pembibitan
Rotifer merupakan pakan alami yang membutuhkan teknik yang matang dalam melakukan pembibitan untuk mendapatkan kultur rotifara yang bagus. Langkah pertama yaitu menyiapkan wadah berupa bak tembok atau bak fiberglass dengan ukuran 25 liter atau wadah lain tersedia. Wadah dibersihkan dengan cara mencuci kemudian mengeringkannya di bawah sinar matahari.
Media pemeliharaan yang dipakai adalah ekstrak pupuk kandang seperti kotoran ayam atau kotoran kuda. Media pemeliharaan dibuat dengan cara merebus kotoran ayam atau kuda dalam panic sebanyak 500 g/liter air. Setelah dimasak, kotoran disaring dengan menggunakan kain blacu atau kain trilin.
Cairan hasil penyaringan ditampung dalam bak fiberglass ukuran 25 liter dan diencerkan dengan menambahkan air kolam 5-10 liter. Penambahan air kolam bertujuan agar bakteri dan jasad renik sebagai pakan rotifer dapat tumbuh.
Pada hari ketujuh, bibit rotifer yang diperoleh dari perairan umum dimasukkan ke dalam media pembibitan. Untuk memastikan ada tidaknya rotifer dalam air harus dilakukan pengamatan di bawah mikroskop. Dalam waktu 1-2 minggu rotifer sudah berkembang dengan baik, dan dapat diinokulasikan untuk dipelihara.


2)   Pemeliharaan
• Dalam Akuarium ( Terbatas )
Ukuran akuarium yang dapat digunakan sebagai wadah pemeliharaan adalah 60 x 40 x 50 cm, sedangkan fiberglass yang biasa dipakai adalah yang berukuran hingga 1 ton. Wadah dicuci bersih dan dikeringkan di bawah terik matahari.
Akuarium diisi dengan air kolam dan volume air yang dimasukkan dihitung. Hal ini diperlukan untuk memperkirakan jumlah pupuk yang akan digunakan. Pupuk yang digunakan adalah kotoran ayam atau kotoran kuda dengan dosis 300-400 g/liter air. Pemberian pupuk dilakukan dengan jalan membungkus pupuk tersebut dalam kain, kemudian digantung hingga seluruh pupuk terendam air.
Setelah tujuh hari, kondisi air media sudah siap sitebari bibit rotifer. Panen dapat dilakukan pada minggu berikutnya ketika populasi Rotifer mencapai puncak. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan planktonnet dengan cara menciduk langsung atau melaluio penyifonan. Kepadatan populasi akan bisa dipertahankan tetap tinggi selama satu bulan apabila setiap 5-6 hari dilakukan pemupukan ulang sebanyak separuh dosis pupuk awal.
• Dalam Kolam (Massal)
Kolam yang digunakan bisa kolam tembok atau kolam tanah yang berukuran antara 100-00 m2. Kolam dikeringkan slama 2-4 hari hingga dasarnya menjadi pecah-pecah. Pencangkulan dan pembajakan dilakukan untuk membalik tanah dasar kolam sehingga udara dapat masuk ke dasar kolam. Perbaikan-perbaikan dilakukan pada saluran pemasukan serta kebocoran-kebocoran yang ada pada tanggul ditutup.
Untuk memperbaiki pH tanah iar dan membunuh bibit-bibit penyakit dilakukan pengapuran dengan memakai kepur pertanian atau kapur tohor 200-300 g/m2. Pemupukan dilakukan dengan cara menebar irisan jerami atau daun kol secara merata dengan dosis 500 g/m2 air. Kolam diisi air hingga menggenang.
Penyemprotan insektisida dilkukan pada hari keempat setelah penggenangan. Insektisida yang dipakai adalah Sumithion 50 EC dengan dosis 4 ppm untuk membunuh organism lain seperti cladocera yang menjadi pemangsa Rotifer. Pada hari keenam atau ketujuh setelah penyemprotan, pemeliharaan Rotifer dapat dilakukan.
Seminggu kemudian Rotifer sudah mencapai populasi puncak dan siap dipanen. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan planktonnet. Cara pemanenannya yaitu ciduk air kolam kemudian air yang terkonsentrasi pada tabung planktonnet ditampung dalam ember. Cara lain panen Rotifer adalah dengan menggunakan pompa air yang di alirkan pada wadah tertentu.
Pemupukan ulang perlu dilakukan untuk mempertahankan populasi Rotifer dengan dosis sebanyak setengah dosis pemupukan awal. Sebaiknya pemupukan dilkukan setiap 5-6 hari sekali Rotifer hidup pada perairan yang banyak tersuspensi bahan organic. Kesukaannya memakan organism lain yang mempunyai ukuran lebih kecil, seperti ganggang renik, ragi,bakteri, dan protozoa. Pada tubuhnya terdapat organ khusus yang disebut korona. Organ ini bentuknya bulat dan dilengkapi bulu getar sehingga tampak seperti roda. Termasuk kelompok rotifer adalah Branchionus sp. (Mujib, 2008).